Kebaya Goes to UNESCO Kebaya Goes to UNESCO
  • Tentang Kami
    • Tentang Tradisikebaya.id
    • Redaksi
  • Sosok Berkebaya
  • Serba-Serbi
    • Serba-Serbi Kebaya
    • Busana Tradisional
  • Berita
    • Artikel
    • Sorotan Media
    • Video
  • Galeri
    • Kebaya Berdansa
    • Galeri Kegiatan
    • Lenggang Bali Pertiwi
  • Referensi
  • Dukungan
  • 22 January 2026

Cut Nyak Dhien: Ketangguhan di Balik Anggunnya “Kebaya Taktis” Sang Pejuang

Oleh: Amelya Nugroho S.Ikom, M.Ikom

​Jika kita membuka dompet dan menemukan uang kertas sepuluh ribu rupiah emisi lama, kita akan disambut oleh tatapan tajam nan berwibawa dari seorang perempuan. Beliau adalah Cut Nyak Dhien. Penempatan wajah beliau di mata uang negara bukan sekadar formalitas sejarah, melainkan pengakuan atas militansi seorang “Ratu Jihad” yang memimpin perang gerilya di Aceh selama puluhan tahun.

​Namun, di balik kebesaran nama besarnya sebagai panglima, ada satu aspek yang sangat menarik untuk kita ulas disini yaitu konsistensi dan filosofi busananya yang ternyata melampaui zaman.

​”Kebaya Taktis” Aceh: Melawan dengan Anggun

​Dalam setiap dokumentasi sejarah, Cut Nyak Dhien identik dengan busana yang mencerminkan kedaulatan budaya sekaligus fungsionalitas militer. Beliau mengenakan kebaya khas Aceh yang berbeda dengan pakem kebaya pesta:

– ​Potongan Kebaya: Berupa kebaya pendek yang pas di badan namun tetap santun. Potongan ini dirancang untuk mobilitas tinggi; memudahkan tangan bergerak saat memegang senjata atau mengarahkan pasukan.

– ​Perpaduan Celana Cekak Musang: Inilah keunikan pejuang Aceh. Beliau memadukan kebayanya dengan celana panjang (cabo) yang ditutup sebagian oleh kain sarung. Inilah “kebaya taktis” yang sesungguhnya—anggun secara estetika, namun tangguh untuk medan perang hutan belantara.

– ​Sanggul Tinggi: Rambut yang disanggul tinggi bukan hanya pemanis, melainkan simbol martabat bangsawan Aceh yang tak pernah mau menundukkan kepala di hadapan penjajah.

​Kemiripan dengan Kebaya Janggan: Busana para Pemimpin

​Melihat potongan kerah Cut Nyak Dhien yang tinggi dan tertutup, banyak yang merasa busana ini mirip dengan Kebaya Janggan (yang kini populer lewat sosok Jeng Yah). Meskipun berasal dari akar budaya yang berbeda—Janggan dari Keraton Jawa dan busana Cut Nyak Dhien dari tradisi Melayu-Aceh—keduanya memiliki benang merah yang sama:

1. ​Kerah Tinggi yang Berwibawa: Keduanya menggunakan kerah tinggi yang memberikan kesan tegas, protektif, dan penuh kewibawaan.

2. ​Kesan Maskulin yang Feminin: Seperti Janggan yang terinspirasi dari jas pria, kebaya Cut Nyak Dhien juga mengadopsi sisi fungsionalitas yang kaku namun tetap memancarkan keanggunan perempuan pemimpin.

3. ​Filosofi Ketangguhan: Keduanya membuktikan bahwa kebaya bukan hanya busana untuk duduk diam, melainkan “zirah” bagi perempuan yang memegang kendali dan tanggung jawab besar.

​Militansi Identitas di Tengah Desingan Peluru

​Selama lebih dari 30 tahun bergerilya, Cut Nyak Dhien tidak pernah menanggalkan identitas busananya. Baginya, kebaya adalah bendera. Mengenakan busana adat di tengah hutan saat diburu Belanda adalah cara beliau menjaga moral pasukan dan menunjukkan bahwa harga diri bangsa tidak bisa dilucuti.

​Kehadirannya di mata uang Rp10.000 menjadi pengingat abadi bahwa busana yang kita cintai ini pernah menjadi saksi bisu perjuangan hidup dan mati demi kemerdekaan.

​Penutup: Inspirasi untuk Kita

​Cut Nyak Dhien mengajarkan bahwa kebaya tidak pernah membatasi ruang gerak perempuan. Jika beliau sanggup mengatur strategi perang dan menembus hutan Aceh dalam balutan kebaya, maka kita pun harus percaya diri membawanya ke mana saja.

​Kebaya adalah simbol kekuatan yang lembut di luar, namun sekeras baja di dalam. Mari kita teruskan semangat “Kebaya Taktis” ini dalam keseharian kita!

Popular

  • Ratusan Perempuan Berkebaya Menari di Balai Kota
  • Antara Kebaya, Hanbok dan Kimono, Kamu Pilih Mana?
  • SMAN 11 Nespaloka Yogya Mendukung Gerakan ‘Kebaya Goes to Unesco’
  • Ini 5 Rekomendasi Kongres Berkebaya Nasional 2021

© Kebaya Goes to UNESCO 2022