Kebaya Goes to UNESCO Kebaya Goes to UNESCO
  • Tentang Kami
    • Tentang Tradisikebaya.id
    • Redaksi
  • Sosok Berkebaya
  • Serba-Serbi
    • Serba-Serbi Kebaya
    • Busana Tradisional
  • Berita
    • Artikel
    • Sorotan Media
    • Video
  • Galeri
    • Kebaya Berdansa
    • Galeri Kegiatan
    • Lenggang Bali Pertiwi
  • Referensi
  • Dukungan
  • 26 January 2026

Martha Christina Tiahahu: Mutiara dari Timur yang Bertempur Tanpa Alas Kaki

Oleh: Amelya Nugroho S.Ikom, M.Ikom

Di Maluku, sejarah mencatat seorang gadis remaja yang turun ke medan perang dengan rambut terurai dan tombak di tangan. Ia adalah Martha Christina Tiahahu, pejuang yang membuktikan bahwa keberanian tidak mengenal batas usia maupun kasta.

​Akar Perjuangan: Srikandi Cilik dari Nusalaut

​Lahir pada 4 Januari 1800 di Desa Abubu, Pulau Nusalaut, Martha adalah putri sulung dari Kapitan Paulus Tiahahu, orang kepercayaan Kapitan Pattimura. Sejak usia 17 tahun, ia sudah mengikuti ayahnya memimpin perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda. Ia bukan sekadar pengamat; ia adalah penggerak kaum perempuan untuk turut serta membantu logistik dan memanggul senjata di garis depan.

​Militansi Busana: Kebaya Putih dan Simbol Perlawanan

​Dalam potret yang sering kita jumpai, Martha digambarkan mengenakan Kebaya Putih dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai bebas. Penampilan ini memiliki makna filosofis yang dalam bagi masyarakat Maluku:

– ​Kebaya Putih yang Berani: Warna putih mencerminkan kemurnian niat dalam berjuang. Berbeda dengan busana keraton yang penuh ornamen, kebaya Martha adalah potret kesederhanaan rakyat yang siap mati demi kedaulatan tanah air.

– ​Ikat Kepala (Sinu): Hiasan di kepalanya menunjukkan identitasnya sebagai putri pejuang yang teguh.

– ​Tanpa Alas Kaki: Militansi Martha paling terlihat saat ia bertempur menembus hutan dan mendaki perbukitan tanpa alas kaki, menunjukkan kedekatan yang sangat erat antara sang pejuang dengan tanah kelahirannya.

​Monumen Keberanian: Tegak Berdiri Menatap Laut

​Apresiasi negara terhadap keberaniannya diwujudkan melalui sebuah monumen megah yang menjadi ikon di Karang Panjang, Ambon.

– ​Tombak di Tangan: Patung tersebut menggambarkan Martha dalam posisi siaga memegang tombak, senjata yang ia gunakan saat peluru pasukan rakyat habis.

– ​Menghadap Laut Banda: Patung ini sengaja diletakkan menghadap ke arah laut, seolah menjadi penjaga abadi bagi kepulauan Maluku. Posisi ini juga mengingatkan pada momen terakhirnya saat ia dibuang ke Pulau Jawa menggunakan kapal perang Eversten dan memilih melakukan mogok makan hingga wafat di tengah laut pada 2 Januari 1818.

– ​Inspirasi Generasi Muda: Kehadiran patung ini di tengah lanskap kota Ambon adalah pesan bagi pemuda-pemudi Indonesia: bahwa semangat “Mutiara dari Timur” ini tidak akan pernah tenggelam meski tubuhnya dilarung ke samudra.

​Penutup: Warisan Semangat dari Maluku

Martha Christina Tiahahu mengajarkan kita bahwa militansi bukan soal kekuatan fisik semata, melainkan tentang keteguhan hati. Ia tetap menjadi srikandi dalam balutan busana khasnya, bertempur dengan martabat, dan pulang dengan kehormatan.

​Melalui tulisan ini, kita diajak untuk kembali menghargai setiap helai kebaya dan busana nusantara yang kita pakai, karena di balik itu semua, terdapat sejarah perjuangan yang luar biasa dari sosok-sosok seperti Martha.

Popular

  • Ratusan Perempuan Berkebaya Menari di Balai Kota
  • Antara Kebaya, Hanbok dan Kimono, Kamu Pilih Mana?
  • SMAN 11 Nespaloka Yogya Mendukung Gerakan ‘Kebaya Goes to Unesco’
  • Ini 5 Rekomendasi Kongres Berkebaya Nasional 2021

© Kebaya Goes to UNESCO 2022