Maria Walanda Maramis: Mutiara dari Minahasa dan Militansi Kebaya Kerawang
Oleh: Amelya Nugroho S.Ikom, M.Ikom

Sulawesi Utara memiliki tokoh perempuan bernama Maria Walanda Maramis. Beliau adalah sosok yang membuktikan bahwa cahaya intelektual perempuan Indonesia tidak hanya bersinar di Jawa atau Sumatera, tapi juga memancar kuat dari tanah Minahasa. Di balik perjuangannya menuntut hak suara perempuan, tersimpan keanggunan abadi dalam balutan kebaya yang menjadi ciri khasnya.
Akar Perjuangan: Menembus Batas Pendidikan di Minahasa
Lahir dengan nama Maria Josephine Catherine Maramis pada 1 Desember 1872 di Kema, Sulawesi Utara, Maria tumbuh menjadi yatim piatu sejak usia dini. Ia dibesarkan oleh pamannya dalam lingkungan yang sangat menghargai adat dan pendidikan.
Meskipun pada masa itu akses pendidikan bagi perempuan sangat terbatas, Maria tidak menyerah. Ia menjadi autodidak yang luar biasa, menyerap ilmu pengetahuan dan menyadari bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung pada kecerdasan kaum ibunya. Semangat inilah yang membawanya mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) pada tahun 1917.
Profesi Profesional: Pendidik dan Pejuang Hak Politik
Kiprah Maria Walanda Maramis melampaui urusan domestik; beliau adalah seorang pemikir dan penggerak massa:
– Pelopor Pendidikan Perempuan: Melalui PIKAT, ia mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan keterampilan praktis, baca tulis, hingga kesehatan bagi kaum perempuan di Minahasa.
– Pejuang Hak Suara: Maria adalah tokoh kunci yang memperjuangkan agar perempuan memiliki hak suara di dewan kota (Minahasa Raad). Militansinya di bidang politik menjadikannya salah satu perempuan pertama di Indonesia yang berani terjun ke ranah kebijakan publik.
Identitas Kebaya Putih: Simbol Kemurnian dan Keteguhan
Dalam berbagai dokumentasi sejarah, Maria Walanda Maramis identik dengan penampilan yang sangat rapi dan anggun. Ciri khas busananya menjadi pernyataan identitas perempuan Minahasa yang modern namun tetap berakar:
– Kebaya Putih Kerawang: Maria sering terlihat mengenakan kebaya putih dengan hiasan bordir atau kerawang yang halus. Warna putih mencerminkan kemurnian niatnya dalam berjuang, sementara detail kerawang menunjukkan ketelatenan dan tingginya nilai seni budaya lokal.
– Konde dan Kain: Beliau selalu tampil dengan rambut yang disanggul rapi (konde) dan kain bawahan yang serasi. Penampilan ini menunjukkan bahwa seorang pejuang hak politik tetap bisa menjaga martabat dan keanggunan identitasnya sebagai perempuan Nusantara.
Militansi yang Melampaui Zaman
Militansi Maria dalam berkebaya putih kerawang memberikan pesan kuat: bahwa untuk menjadi perempuan yang maju dan berwibawa secara politik, kita tidak perlu membuang identitas budaya kita. Kebaya putihnya adalah saksi bisu saat beliau menulis kolom-kolom tajam di surat kabar ‘Tjahaja Siang’, menuntut kesetaraan bagi kaum perempuan.
Beliau membuktikan bahwa kebaya adalah busana yang “berdaya”. Ia bisa dipakai untuk mengajar di kelas, memimpin organisasi, hingga beradu argumen di forum-forum penting kenegaraan.
Berikut adalah karakteristik utama dari Kebaya Kerawang:
– Teknik Kerawang: Istilah “kerawang” merujuk pada proses melubangi bagian tertentu dari kain sesuai dengan pola motif, kemudian pinggiran lubang tersebut diperkuat dengan jahitan atau bordir agar tidak berserabut dan terlihat rapi.
– Motif yang Halus: Biasanya menggunakan motif flora (bunga dan daun) atau sulur-suluran yang rumit dan mendetail.
– Kesan Estetika: Karena sifatnya yang berlubang, kebaya ini memberikan kesan ringan, elegan, dan mewah namun tetap sopan karena biasanya dikenakan dengan dalaman (longtorso atau camisole) yang serasi.
Penutup: Meneruskan Cahaya Maria
Maria Walanda Maramis mengajarkan kita bahwa kecantikan sejati perempuan Indonesia terletak pada perpaduan antara kecerdasan otak dan kebanggaan pada identitas diri. Saat kita mengenakan kebaya sekarang, kita sedang merayakan keberanian Maria yang dulu berjuang agar kita bisa memiliki suara dan pendidikan.
Mari kita jaga cahaya dari Minahasa ini tetap menyala. Teruslah berkarya dan jadilah perempuan yang cerdas, tangguh, serta tetap setia pada keanggunan kebaya.