𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗞𝘂𝗹𝗶𝘁 𝗞𝗮𝘆𝘂 𝗸𝗲 𝗞𝗲𝗯𝗮𝘆𝗮: 𝗛𝗶𝗸𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗖𝗮𝗻𝘁𝗶𝗸 𝗣𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗡𝘂𝘀𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮
𝑂𝑙𝑒ℎ : 𝐴𝑚𝑒𝑙𝑦𝑎 𝑁𝑢𝑔𝑟𝑜ℎ𝑜 S.Ikom, M.Ikom
Pernahkah kita membayangkan, sebelum lemari pakaian kita penuh dengan baju kaos atau gaun modern, apa yang dipakai oleh nenek moyang perempuan kita ribuan tahun lalu? Ternyata, sejarah busana perempuan di Nusantara bukan sekadar soal penutup tubuh, tapi soal bagaimana perempuan Indonesia “berbicara” lewat kain yang mereka kenakan.
Mari kita putar waktu kembali ke masa lalu.
𝟏. 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐏𝐫𝐚𝐬𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡: 𝐀𝐥𝐚𝐦 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐧𝐣𝐚𝐡𝐢𝐭 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚
Jauh sebelum ada mesin jahit, perempuan Nusantara sudah sangat kreatif. Di zaman purba, busana lahir dari apa yang disediakan alam. Di pedalaman Sulawesi hingga Papua, perempuan membuat pakaian dari kulit kayu yang dipukul-pukul sampai lembut menyerupai kain.
Bagi mereka, busana adalah perlindungan. Hiasannya? Bukan manik-manik plastik, melainkan taring binatang, cangkang kerang, atau biji-bijian. Di fase ini, fungsi utama baju adalah menjaga tubuh dari cuaca dan sebagai simbol kekuatan di dalam suku.
𝟐. 𝐄𝐫𝐚 𝐊𝐞𝐫𝐚𝐣𝐚𝐚𝐧: 𝐊𝐞𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐋𝐢𝐥𝐢𝐭𝐚𝐧 “𝐖𝐚𝐬𝐭𝐫𝐚”
Masuk ke zaman Hindu-Buddha, Nusantara mulai kedatangan tamu-tamu dari India dan Tiongkok. Mereka membawa teknologi baru: Tenun. Di sinilah lahir istilah Wastra (kain tradisional).
Perempuan di zaman ini tidak mengenal baju yang dijahit pas di badan. Mereka memakai kain panjang yang dililitkan dengan sangat artistik. Kita bisa melihat buktinya di relief Candi Borobudur atau Prambanan. Perempuan bangsawan hingga rakyat biasa tampil anggun dengan kain yang membalut pinggang hingga kaki, sementara bagian atas seringkali menggunakan kemben atau kain tipis. Inilah cikal bakal “keanggunan asli” kita: sederhana, namun berkelas.
𝟑. 𝐀𝐛𝐚𝐝 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡𝐚𝐧: 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐊𝐞𝐛𝐚𝐲𝐚 𝐌𝐮𝐥𝐚𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐩𝐚
Seiring masuknya pengaruh Islam dan perdagangan Arab-Tiongkok, standar kesantunan mulai bergeser. Perempuan mulai menginginkan busana yang lebih tertutup.
Dari sinilah Kebaya mulai menampakkan wujudnya. Adaptasi dari baju tunik Tiongkok dan baju kurung dari tanah Melayu perlahan menyatu. Kebaya awal adalah kain tipis yang disatukan dengan peniti di bagian depan. Di wilayah Sumatera, lahir Baju Kurung yang longgar dan santun, sementara di Jawa, kebaya menjadi pasangan serasi bagi Batik yang setiap motifnya mengandung doa dan filosofi hidup.
𝟒. 𝐄𝐫𝐚 𝐊𝐨𝐥𝐨𝐧𝐢𝐚𝐥: 𝐏𝐞𝐫𝐜𝐚𝐦𝐩𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐁𝐮𝐝𝐚𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐔𝐧𝐢𝐤
Nah, di masa penjajahan, busana kita malah jadi makin “meriah”. Pertemuan budaya menciptakan tren-tren unik yang masih kita kenal sekarang:
– Kebaya Encim: Lahir dari kreasi perempuan peranakan Tionghoa yang menggabungkan bentuk kebaya dengan motif bunga dan burung khas Tiongkok. Warnanya? Berani dan cerah!
– Kebaya Noni: Perempuan Belanda yang tinggal di sini merasa gerah memakai gaun Eropa yang berlapis-lapis. Mereka akhirnya memakai kebaya putih dengan renda-renda cantik (lace) dari Eropa.
Di era ini, kebaya menjadi simbol status sekaligus bukti bahwa budaya kita sangat terbuka dan bisa “berteman” dengan budaya luar tanpa kehilangan jati diri.
𝟓. 𝐄𝐫𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐣𝐮𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧: 𝐊𝐞𝐛𝐚𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚𝐭𝐚
Memasuki abad ke-20, kebaya naik kelas menjadi simbol perlawanan. Tokoh seperti RA Kartini menunjukkan bahwa perempuan yang berkebaya adalah perempuan yang terdidik dan bermartabat.
Setelah merdeka, Presiden Soekarno menetapkan kebaya sebagai Busana Nasional. Tujuannya satu: agar perempuan Indonesia punya identitas yang jelas di mata dunia. Bahwa kita bukan bangsa yang hanya ikut-ikutan Barat, tapi bangsa yang punya akar budaya yang kuat.
𝟔. 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐊𝐢𝐧𝐢: 𝐄𝐫𝐚 “𝐁𝐞𝐫𝐤𝐚𝐢𝐧” 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐛𝐚𝐲𝐚 𝐌𝐨𝐝𝐞𝐫𝐧
Bagaimana dengan sekarang? Di mata remaja zaman 𝑁𝑜𝑤, kebaya dan kain tradisional tidak lagi dianggap “jadul”.
– Ada tren “Berkain”, di mana anak muda memadukan kain batik dengan sepatu sneakers atau jaket denim.
– Ada gerakan “Kebaya Goes to UNESCO” yang digerakkan oleh berbagai komunitas dan publik figur, menunjukkan bahwa kita sadar warisan ini harus dijaga secara internasional.
Bagi emak-emak, kebaya tetap menjadi andalan untuk tampil berwibawa di acara resmi. Sementara bagi remaja, kebaya adalah cara mereka tampil unik dan “estetik” di media sosial.
𝐏𝐞𝐧𝐮𝐭𝐮𝐩: 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐋𝐚𝐥𝐮
Perjalanan busana perempuan Nusantara mengajarkan kita satu hal: 𝐀𝐝𝐚𝐩𝐭𝐚𝐬𝐢. Kita tidak pernah takut dengan pengaruh asing, tapi kita selalu punya cara untuk mengubahnya menjadi “sangat Indonesia”.
Dari kulit kayu yang kasar hingga sutra bordir yang halus, busana perempuan kita adalah cerita tentang harga diri, kreativitas, dan cinta pada tanah air. Jadi, setiap kali kita memakai kebaya atau melilitkan kain, ingatlah bahwa kita sedang memakai sejarah yang panjangnya ribuan tahun.