Kebaya Goes to UNESCO Kebaya Goes to UNESCO
  • Tentang Kami
    • Tentang Tradisikebaya.id
    • Redaksi
  • Sosok Berkebaya
  • Serba-Serbi
    • Serba-Serbi Kebaya
    • Busana Tradisional
  • Berita
    • Artikel
    • Sorotan Media
    • Video
  • Galeri
    • Kebaya Goes to UNESCO
    • Galeri Kegiatan
    • Lenggang Bali Pertiwi
  • Referensi
  • Dukungan
  • 8 January 2026

๐——๐—ถ๐—ฝ๐—น๐—ผ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฐ๐—ฎ๐˜: ๐—ฃ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฒ ๐—”๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ ๐—Ÿ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ต๐˜‚๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ก๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ

Oleh : Amelya Nugroho S.Ikom, M.Ikom

โ€‹Tiga tahun lalu, perjalanan saya mendampingi suami ke Muscat, Oman, bukan sekadar kunjungan biasa. Sebagai keturunan ras Arab bermarga Al Khatiri, menginjakkan kaki di sana terasa seperti pulang ke rumah. Darah Hadramaut yang mengalir di tubuh saya seolah bergetar menyambut suasana yang sangat akrab dengan sejarah leluhur.

โ€‹๐๐ž๐ซ๐ญ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š๐ง ๐ƒ๐ฎ๐š ๐ƒ๐ฎ๐ง๐ข๐š: ๐€๐›๐š๐ฒ๐š ๐๐š๐ง ๐Š๐ž๐›๐š๐ฒ๐š

Malam itu, dalam jamuan di Restoran Roznah, Muscat, saya bertemu dengan sekelompok wanita lokal yang mengenakan Abaya hitam yang elegan. Secara geneologi, kami adalah serumpun, namun secara budaya, saya hadir sebagai seorang wanita Indonesia.

โ€‹Saya memilih mengenakan kebaya putih dengan kain tenun motif aceh dan kerudung kuning. Di tengah percakapan hangat, saya menyadari sebuah keniscayaan: perpaduan dua dunia. Darah saya Arab, namun jiwa dan budaya saya adalah Indonesia. Kebaya yang saya pakai menjadi jembatan yang menghubungkan warisan leluhur Hadramaut dengan kebanggaan saya sebagai istri dari suami pria Jawa dan warga negara Indonesia.

โ€‹๐”๐ฅ๐š๐ฌ๐š๐ง ๐Š๐ก๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฌ: ๐‘๐ž๐ฅ๐š๐ฌ๐ข ๐€๐›๐š๐ฒ๐š ๐๐š๐ง ๐Š๐ž๐›๐š๐ฒ๐š

โ€‹Mumpung saya sedang berada dalam pertemuan antara Abaya dan Kebaya, menarik sekali jika kita melihat relasi keduanya. Meskipun terlihat berbeda secara visual, keduanya memiliki benang merah sejarah yang kuat:

– โ€‹Akar Etimologi yang Sama: Kata “Kebaya” dipercaya berasal dari bahasa Arab “Kaba” atau “Abaya” yang berarti pakaian. Pengaruh busana tertutup dari Timur Tengah dibawa oleh pedagang Arab dan Persia ke Nusantara berabad-abad lalu, yang kemudian beradaptasi dengan budaya lokal menjadi apa yang kita kenal sebagai Kebaya sekarang.

– โ€‹Filosofi Kesopanan (Modesty): Baik Abaya maupun Kebaya lahir dari nilai-nilai kesopanan. Abaya melindungi dengan keanggunan kain yang longgar, sementara Kebaya melindungi dengan potongan yang rapi dan bersahaja. Keduanya adalah simbol martabat perempuan dalam menjaga identitasnya.

– โ€‹Wadah Akulturasi: Jika Abaya di Timur Tengah kini banyak dihiasi bordir modern, Kebaya di Indonesia pun sangat luwes dipadukan. Seperti yang saya alami di Muscat, Kebaya putih saya bisa bersanding harmonis dengan Abaya hitam. Mereka tidak saling meniadakan, melainkan saling menghargai.

โ€‹๐‘๐ž๐Ÿ๐ฅ๐ž๐ค๐ฌ๐ข ๐๐ฎ๐๐š๐ฒ๐š: ๐Œ๐ž๐ง๐š๐ซ๐ข ๐๐ข ๐€๐ง๐ญ๐š๐ซ๐š ๐๐š๐ญ๐š๐ฌ

Saat musik tradisional padang pasir mulai menggema, jiwa seni saya terpanggil. Secara refleks, saya berbaur dengan kelompok musisi dan mulai menari. Awalnya, saya sempat bertanya: ๐พ๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘๐‘Ž ๐‘ฆ๐‘Ž, ๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž ๐‘ค๐‘Ž๐‘›๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘๐‘Ž๐‘›๐‘ก๐‘–๐‘˜ ๐‘‘๐‘– ๐‘ ๐‘’๐‘˜๐‘’๐‘™๐‘–๐‘™๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘ ๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘˜๐‘ข๐‘ก ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–? Belakangan baru memahami bahwa di sana, ada aturan tak tertulis tentang kesopanan publik bagi wanita lokal. Mereka biasanya tidak menari di tengah kerumunan yang didominasi pria. Namun, sebagai “tamu” berkebaya, saya merasa diberikan ruang istimewa. Kebaya menjadi “perisai” yang menjaga saya tetap terlihat terhormat meski mungkin oleh sebagian orang dianggap “nekat” mengekspresikan kegembiraan lewat tarian.

โ€‹๐๐ž๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ: ๐๐ž๐ซ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ง๐ ๐ง๐ฒ๐š ๐Œ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐๐ข ๐๐ž๐ซ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐š๐ง ๐ˆ๐ง๐๐จ๐ง๐ž๐ฌ๐ข๐š

Momen di Muscat ini membuat saya semakin cinta pada Indonesia. Saya merasa sangat beruntung; sebagai perempuan Indonesia, saya memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diriโ€”termasuk menari di tengah acara yang saya sukai, bahkan saat berkebaya.

โ€‹Kebaya telah menjadi “paspor budaya” yang paling anggun. Ia membawa saya diterima dengan hangat di tanah leluhur, sambil tetap menunjukkan kepada dunia bahwa identitas kita sebagai bangsa Indonesia adalah identitas yang merdeka, luwes, dan menembus batas.

Popular

  • Sambut Hari Kartini, Puluhan Buruh Gendong Fashion Show Berkebaya di Pasar Beringharjo
  • KSP apresiasi antusiasme komunitas dukung Kebaya Goes to UNESCO
  • Dian Sastrowardoyo Gaungkan Kampanye Kebaya Goes To UNESCO
  • Tinuk Suhartini MG adalah Semangat Berkebaya dan Pelestari Budaya

© Kebaya Goes to UNESCO 2022