๐๐ถ๐ฝ๐น๐ผ๐บ๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฑ๐ถ ๐ ๐๐๐ฐ๐ฎ๐: ๐ฃ๐๐น๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฒ ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ ๐๐ฒ๐น๐๐ต๐๐ฟ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฑ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐๐ฎ๐ ๐ก๐๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ
Oleh : Amelya Nugroho S.Ikom, M.Ikom
โTiga tahun lalu, perjalanan saya mendampingi suami ke Muscat, Oman, bukan sekadar kunjungan biasa. Sebagai keturunan ras Arab bermarga Al Khatiri, menginjakkan kaki di sana terasa seperti pulang ke rumah. Darah Hadramaut yang mengalir di tubuh saya seolah bergetar menyambut suasana yang sangat akrab dengan sejarah leluhur.
โ๐๐๐ซ๐ญ๐๐ฆ๐ฎ๐๐ง ๐๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ง๐ข๐: ๐๐๐๐ฒ๐ ๐๐๐ง ๐๐๐๐๐ฒ๐
Malam itu, dalam jamuan di Restoran Roznah, Muscat, saya bertemu dengan sekelompok wanita lokal yang mengenakan Abaya hitam yang elegan. Secara geneologi, kami adalah serumpun, namun secara budaya, saya hadir sebagai seorang wanita Indonesia.
โSaya memilih mengenakan kebaya putih dengan kain tenun motif aceh dan kerudung kuning. Di tengah percakapan hangat, saya menyadari sebuah keniscayaan: perpaduan dua dunia. Darah saya Arab, namun jiwa dan budaya saya adalah Indonesia. Kebaya yang saya pakai menjadi jembatan yang menghubungkan warisan leluhur Hadramaut dengan kebanggaan saya sebagai istri dari suami pria Jawa dan warga negara Indonesia.
โ๐๐ฅ๐๐ฌ๐๐ง ๐๐ก๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฌ: ๐๐๐ฅ๐๐ฌ๐ข ๐๐๐๐ฒ๐ ๐๐๐ง ๐๐๐๐๐ฒ๐
โMumpung saya sedang berada dalam pertemuan antara Abaya dan Kebaya, menarik sekali jika kita melihat relasi keduanya. Meskipun terlihat berbeda secara visual, keduanya memiliki benang merah sejarah yang kuat:
– โAkar Etimologi yang Sama: Kata “Kebaya” dipercaya berasal dari bahasa Arab “Kaba” atau “Abaya” yang berarti pakaian. Pengaruh busana tertutup dari Timur Tengah dibawa oleh pedagang Arab dan Persia ke Nusantara berabad-abad lalu, yang kemudian beradaptasi dengan budaya lokal menjadi apa yang kita kenal sebagai Kebaya sekarang.
– โFilosofi Kesopanan (Modesty): Baik Abaya maupun Kebaya lahir dari nilai-nilai kesopanan. Abaya melindungi dengan keanggunan kain yang longgar, sementara Kebaya melindungi dengan potongan yang rapi dan bersahaja. Keduanya adalah simbol martabat perempuan dalam menjaga identitasnya.
– โWadah Akulturasi: Jika Abaya di Timur Tengah kini banyak dihiasi bordir modern, Kebaya di Indonesia pun sangat luwes dipadukan. Seperti yang saya alami di Muscat, Kebaya putih saya bisa bersanding harmonis dengan Abaya hitam. Mereka tidak saling meniadakan, melainkan saling menghargai.
โ๐๐๐๐ฅ๐๐ค๐ฌ๐ข ๐๐ฎ๐๐๐ฒ๐: ๐๐๐ง๐๐ซ๐ข ๐๐ข ๐๐ง๐ญ๐๐ซ๐ ๐๐๐ญ๐๐ฌ
Saat musik tradisional padang pasir mulai menggema, jiwa seni saya terpanggil. Secara refleks, saya berbaur dengan kelompok musisi dan mulai menari. Awalnya, saya sempat bertanya: ๐พ๐๐๐๐๐ ๐ฆ๐, ๐๐๐๐ ๐ค๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ฆ๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐ข๐ก ๐๐๐๐๐๐? Belakangan baru memahami bahwa di sana, ada aturan tak tertulis tentang kesopanan publik bagi wanita lokal. Mereka biasanya tidak menari di tengah kerumunan yang didominasi pria. Namun, sebagai “tamu” berkebaya, saya merasa diberikan ruang istimewa. Kebaya menjadi “perisai” yang menjaga saya tetap terlihat terhormat meski mungkin oleh sebagian orang dianggap “nekat” mengekspresikan kegembiraan lewat tarian.
โ๐๐๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ: ๐๐๐ซ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ง๐ ๐ง๐ฒ๐ ๐๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข ๐๐๐ซ๐๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐๐ง ๐๐ง๐๐จ๐ง๐๐ฌ๐ข๐
Momen di Muscat ini membuat saya semakin cinta pada Indonesia. Saya merasa sangat beruntung; sebagai perempuan Indonesia, saya memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diriโtermasuk menari di tengah acara yang saya sukai, bahkan saat berkebaya.
โKebaya telah menjadi “paspor budaya” yang paling anggun. Ia membawa saya diterima dengan hangat di tanah leluhur, sambil tetap menunjukkan kepada dunia bahwa identitas kita sebagai bangsa Indonesia adalah identitas yang merdeka, luwes, dan menembus batas.