Kebaya Goes to UNESCO Kebaya Goes to UNESCO
  • Tentang Kami
    • Tentang Tradisikebaya.id
    • Redaksi
  • Sosok Berkebaya
  • Serba-Serbi
    • Serba-Serbi Kebaya
    • Busana Tradisional
  • Berita
    • Artikel
    • Sorotan Media
    • Video
  • Galeri
    • Kebaya Goes to UNESCO
    • Galeri Kegiatan
    • Lenggang Bali Pertiwi
  • Referensi
  • Dukungan
  • 2 January 2026

๐——๐—ถ ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—Ÿ๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฎ๐—ถ๐—ป: ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ ๐—™๐—ถ๐—น๐—ผ๐˜€๐—ผ๐—ณ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐—ช๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ต๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ

๐‘‚๐‘™๐‘’โ„Ž : ๐ด๐‘š๐‘’๐‘™๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘๐‘ข๐‘”๐‘Ÿ๐‘œโ„Ž๐‘œ S.Ikom, M.Ikom

โ€‹Kebaya sering kali dianggap sebagai pakaian yang merepotkan karena potongannya yang pas di badan dan cara pakainya yang berlapis. Namun, bagi wanita Nusantara terdahulu, setiap helai kain dan setiap kancing yang disematkan memiliki makna filosofis yang mendalam. Kebaya bukan hanya penutup tubuh, melainkan cermin karakter dan doa yang dipakaikan ke raga.

โ€‹๐๐จ๐ญ๐จ๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐š๐ฌ: ๐’๐ข๐ฆ๐›๐จ๐ฅ ๐Š๐ž๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ง๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐Š๐จ๐ง๐ญ๐ซ๐จ๐ฅ ๐ƒ๐ข๐ซ๐ข

Berbeda dengan baju longgar, kebaya sengaja didesain mengikuti lekuk tubuh namun tetap santun. Filosofinya adalah tentang pengendalian diri. Wanita yang mengenakan kebaya dituntut untuk sadar akan gerak-geriknya. Potongan ini mengajarkan bahwa menjadi anggun membutuhkan kedisiplinanโ€”bagaimana cara duduk yang benar, cara berdiri yang tegak, dan cara berjalan yang tenang tanpa tergesa-gesa.

โ€‹๐’๐ญ๐š๐ ๐ž๐ง ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐‰๐š๐ซ๐ข๐ค: ๐Š๐ž๐ญ๐ž๐ ๐ฎ๐ก๐š๐ง ๐‡๐š๐ญ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐š๐ง๐ฃ๐š๐ง๐ 

Sebelum kebaya dipasang, biasanya digunakan kain panjang (jarik) dan stagen (pada awalnya adalah dalam bentuk kemben lilit). Kain yang melilit erat ini melambangkan kesabaran yang tak putus. Dalam budaya Jawa, wanita diharapkan menjadi tiang keluarga yang sabar dan kuat menghadapi cobaan yang panjang, sebagaimana panjangnya kain jarik yang melilit tubuhnya atau modifikasi modernnya.

โ€‹๐‹๐ข๐ฉ๐š๐ญ๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐๐ž๐ง๐ข๐ญ๐ข: ๐’๐ข๐ฆ๐›๐จ๐ฅ ๐Š๐ž๐ซ๐š๐ฉ๐ข๐ก๐š๐ง ๐‡๐ข๐๐ฎ๐ฉ

Pada model Kebaya Kutubaru, terdapat lipatan kain di bagian tengah. Lipatan ini menuntut ketelitian saat memakainya agar simetris dan rapi. Hal ini mencerminkan bahwa seorang wanita harus mampu mengatur urusan rumah tangga dan hidupnya dengan penuh ketelitian. Peniti atau bros yang menyatukan kain melambangkan bahwa seorang wanita adalah sosok yang menyatukan keluarga; ia adalah pengikat yang kuat bagi orang-orang di sekitarnya.

โ€‹๐Š๐ž๐ซ๐š๐ก ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐“๐ž๐ซ๐›๐ฎ๐ค๐š: ๐Š๐ž๐ญ๐ž๐ซ๐›๐ฎ๐ค๐š๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐Š๐ž๐ซ๐š๐ฆ๐š๐ก๐š๐ง

Kerah kebaya yang umumnya berbentuk V atau terbuka (seperti pada Kebaya Kartini atau Encim) melambangkan keterbukaan jiwa dan kejujuran. Ini mencerminkan karakter wanita Nusantara yang ramah, sopan dalam bertutur kata, namun tetap memegang teguh identitasnya. Ia terbuka pada perubahan zaman, namun hatinya tetap berpijak pada nilai-nilai luhur.

โ€‹๐Œ๐จ๐ญ๐ข๐Ÿ ๐๐จ๐ซ๐๐ข๐ซ ๐๐š๐ง ๐๐š๐ฒ๐ž๐ญ: ๐ƒ๐จ๐š ๐๐ข ๐’๐ž๐ญ๐ข๐š๐ฉ ๐’๐ฎ๐ฅ๐š๐ฆ๐š๐ง

Jika kita perhatikan detail bordir pada kebaya, biasanya didominasi motif flora (bunga dan tumbuhan). Ini adalah simbol kesuburan dan keharmonisan dengan alam. Memakai kebaya dengan motif bunga adalah harapan agar si pemakai senantiasa memberikan “keharuman” atau kebaikan bagi lingkungannya, di mana pun ia berada.

โ€‹๐๐ž๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ: ๐Œ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐ ๐š ๐ˆ๐๐ž๐ง๐ญ๐ข๐ญ๐š๐ฌ ๐๐ข ๐„๐ซ๐š ๐Œ๐จ๐๐ž๐ซ๐ง

Memahami filosofi kebaya membuat kita sadar bahwa busana ini adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Saat mahasiswi masa kini atau para ibu mengenakan kebaya, mereka sebenarnya sedang mewarisi nilai-nilai tentang kesabaran, kontrol diri, dan keanggunan. Kebaya membuktikan bahwa untuk menjadi hebat, seorang wanita tidak harus kehilangan kelembutannya.

Popular

  • Sambut Hari Kartini, Puluhan Buruh Gendong Fashion Show Berkebaya di Pasar Beringharjo
  • KSP apresiasi antusiasme komunitas dukung Kebaya Goes to UNESCO
  • Dian Sastrowardoyo Gaungkan Kampanye Kebaya Goes To UNESCO
  • Tinuk Suhartini MG adalah Semangat Berkebaya dan Pelestari Budaya

© Kebaya Goes to UNESCO 2022