๐ ๐ฒ๐ป๐ฒ๐ป๐๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐ป ๐๐๐ป๐ถ๐ฎ: ๐ฆ๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐ฃ๐ฎ๐ป๐ท๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ท๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ผ๐บ๐๐ป๐ถ๐๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐น๐ถ๐ธ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ ๐จ๐ก๐๐ฆ๐๐ข
๐๐๐โ : ๐ด๐๐๐๐ฆ๐ ๐๐ข๐๐๐โ๐ S.Ikom, M.Ikom
โPengakuan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada akhir tahun 2024 bukan sekadar pencapaian administratif pemerintah. Ia adalah sebuah monumen atas kegigihan masyarakat sipilโkhususnya kelompok perempuanโyang selama bertahun-tahun melakukan diplomasi dari akar rumput. Ini adalah kisah tentang bagaimana keresahan berubah menjadi gerakan nasional yang tak terbendung.
โ๐๐๐๐: ๐๐๐ง๐ข๐ก ๐๐๐ซ๐๐ฌ๐๐ก๐๐ง ๐๐๐ง ๐๐ฐ๐๐ฅ ๐๐๐ซ๐๐ค๐๐ง
โJejak perjuangan ini bisa ditarik mundur hingga tahun 2017. Pada saat itu, kebaya mulai kehilangan tempat dalam keseharian masyarakat perkotaan. Kebaya hanya dianggap sebagai “seragam” untuk upacara adat atau kondangan.
โKomunitas-komunitas awal seperti Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) dan berbagai paguyuban pecinta kain mulai melakukan aksi sporadis. Mereka mengusung misi sederhana namun menantang: mengembalikan kebaya sebagai busana harian. Dari sinilah lahir gerakan-gerakan seperti “Selasa Berkebaya” yang bertujuan membiasakan perempuan Indonesia bangga mengenakan kebaya di ruang publik, kantor, hingga pasar swalayan.
โ๐๐ซ๐ ๐๐ข๐ ๐ข๐ญ๐๐ฅ ๐๐๐ง ๐๐๐๐ฌ๐ข๐ญ๐ ๐ญ๐ซ๐๐๐ข๐ฌ๐ข๐ค๐๐๐๐ฒ๐.๐ข๐
โMemasuki fase pengusulan resmi ke UNESCO, gerakan ini mulai mengadopsi cara-cara modern yang sangat terorganisir. Salah satu pilar utamanya adalah peluncuran website tradisikebaya.id.
โSitus ini menjadi pusat data tunggal yang krusial. Melalui website ini, komunitas melakukan pendataan publik, di mana warga diminta mengunggah foto mereka mengenakan kebaya disertai pernyataan dukungan. Ribuan data yang terkumpul di sana menjadi bukti otentik bagi UNESCO bahwa kebaya bukanlah artefak mati di museum, melainkan “living culture” atau budaya yang nyata-nyata masih dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia lintas generasi.
โ๐๐๐ฆ๐ฉ๐๐ง๐ฒ๐ “๐๐๐๐๐ฒ๐ ๐๐จ๐๐ฌ ๐ญ๐จ ๐๐๐๐๐๐” ๐๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐ง ๐๐ข๐๐ง ๐๐๐ฌ๐ญ๐ซ๐จ
โMomentum ini semakin membesar ketika kampanye “Kebaya Goes to UNESCO” digaungkan secara masif. Salah satu sosok yang menjadi katalisator utama adalah aktris Dian Sastrowardoyo.
โDian tidak hanya sekadar menjadi ikon, ia terlibat aktif mendorong publik untuk menyuarakan dukungan. Lewat pengaruhnya, kebaya yang selama ini terkesan kaku berubah citranya menjadi busana yang sangat relevan bagi mahasiswi dan perempuan muda. Ia mengajak jutaan pengikutnya untuk berpartisipasi dalam pendataan di tradisikebaya.id, memperkuat posisi tawar Indonesia di mata internasional bahwa dukungan rakyat terhadap busana ini bersifat masif.
โ๐๐ค๐ฌ๐ข-๐๐ค๐ฌ๐ข ๐๐ซ๐๐๐ญ๐ข๐: ๐๐๐ซ๐ข ๐๐๐ง๐ ๐ ๐๐ง๐ ๐๐๐ฅ๐ข ๐ก๐ข๐ง๐ ๐ ๐ ๐๐๐๐๐ฒ๐ ๐๐๐ซ๐๐๐ง๐ฌ๐
โDi berbagai daerah, dukungan muncul dalam bentuk kegiatan yang sangat kreatif dan penuh warna.
– โLenggang Bali Pertiwi: Mengumpulkan ribuan perempuan di Pulau Dewata untuk berjalan anggun di ruang publik, menunjukkan bahwa di Bali, kebaya adalah bagian tak terpisahkan dari ritual dan kehidupan sosial.
– โKebaya Berdansa: Sebuah gerakan yang mendobrak stigma bahwa kebaya itu membatasi gerak. Lewat acara ini, para perempuan membuktikan bahwa dengan kebaya, mereka tetap bisa berdansa, beraktivitas lincah, dan mengekspresikan kegembiraan.
– โGerakan di Mancanegara: Perempuan diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia ikut bergerak, melakukan aksi berjalan kaki berkebaya di pusat-pusat kota besar dunia untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa kebaya adalah identitas pemersatu bangsa Indonesia di mana pun mereka berada.
โ๐๐จ๐ฅ๐๐ฆ๐ข๐ค ๐๐๐ฅ๐ฎ๐ซ ๐๐๐ง๐๐๐๐ญ๐๐ซ๐๐ง: ๐๐๐ฌ๐ข๐จ๐ง๐๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฆ๐ ๐ฏ๐ฌ ๐๐ญ๐ซ๐๐ญ๐๐ ๐ข ๐๐ข๐ฉ๐ฅ๐จ๐ฆ๐๐ฌ๐ข
โNamun, perjalanan menuju UNESCO tidak selamanya mulus. Pada tahun 2023, muncul dinamika besar ketika pemerintah mengambil keputusan untuk melakukan Joint Nomination (pengusulan bersama) dengan Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand.
โKeputusan ini sempat memicu perdebatan hangat di kalangan komunitas pejuang kebaya:
– โPendukung Usulan Tunggal: Khawatir bahwa kekhasan dan sejarah panjang kebaya di Nusantara akan “menguap” jika digabung dengan negara lain. Ada keinginan kuat agar dunia tahu bahwa Indonesia adalah pusat utama dari peradaban kebaya.
– โPendukung Usulan Bersama: Melihat dari kacamata diplomasi UNESCO yang lebih mengutamakan kolaborasi antarnegara. Jalur ini juga dianggap lebih cerdas secara strategis karena mempercepat proses antrean pengakuan yang sangat ketat di UNESCO.
โSetelah melalui berbagai dialog panjang, komunitas dan pemerintah akhirnya bersepakat. Fokus utama dialihkan pada pengakuan global dan pelestarian jangka panjang, dengan tetap menonjolkan kekayaan variasi kebaya milik Indonesiaโseperti Kutubaru dan Jangganโsebagai bagian dari keragaman budaya dunia.
โ๐๐๐ฆ๐๐ง๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ค๐ฒ๐๐ญ
โKetika pada akhirnya UNESCO menetapkan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 4 Desember 2024 , itu adalah kemenangan kolektif. Ini adalah penghormatan bagi para perintis di tahun 2017, para admin dan kontributor tradisikebaya.id, Dian Sastro yang memberikan suaranya, serta setiap perempuan yang dengan bangga melangkahkan kaki dengan kebaya di acara-acara sporadis di seluruh pelosok negeri.
โSejarah mencatat bahwa kebaya tidak hanya dijaga oleh hukum, tetapi dijaga oleh cinta dan kebanggaan pemiliknya.