Kebaya Goes to UNESCO Kebaya Goes to UNESCO
  • Tentang Kami
    • Tentang Tradisikebaya.id
    • Redaksi
  • Sosok Berkebaya
  • Serba-Serbi
    • Serba-Serbi Kebaya
    • Busana Tradisional
  • Berita
    • Artikel
    • Sorotan Media
    • Video
  • Galeri
    • Kebaya Goes to UNESCO
    • Galeri Kegiatan
    • Lenggang Bali Pertiwi
  • Referensi
  • Dukungan
  • 2 January 2026

๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐——๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ: ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—ž๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—จ๐—ก๐—˜๐—ฆ๐—–๐—ข

๐‘‚๐‘™๐‘’โ„Ž : ๐ด๐‘š๐‘’๐‘™๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘๐‘ข๐‘”๐‘Ÿ๐‘œโ„Ž๐‘œ S.Ikom, M.Ikom

โ€‹Pengakuan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada akhir tahun 2024 bukan sekadar pencapaian administratif pemerintah. Ia adalah sebuah monumen atas kegigihan masyarakat sipilโ€”khususnya kelompok perempuanโ€”yang selama bertahun-tahun melakukan diplomasi dari akar rumput. Ini adalah kisah tentang bagaimana keresahan berubah menjadi gerakan nasional yang tak terbendung.

โ€‹๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ•: ๐๐ž๐ง๐ข๐ก ๐Š๐ž๐ซ๐ž๐ฌ๐š๐ก๐š๐ง ๐๐š๐ง ๐€๐ฐ๐š๐ฅ ๐†๐ž๐ซ๐š๐ค๐š๐ง

โ€‹Jejak perjuangan ini bisa ditarik mundur hingga tahun 2017. Pada saat itu, kebaya mulai kehilangan tempat dalam keseharian masyarakat perkotaan. Kebaya hanya dianggap sebagai “seragam” untuk upacara adat atau kondangan.

โ€‹Komunitas-komunitas awal seperti Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) dan berbagai paguyuban pecinta kain mulai melakukan aksi sporadis. Mereka mengusung misi sederhana namun menantang: mengembalikan kebaya sebagai busana harian. Dari sinilah lahir gerakan-gerakan seperti “Selasa Berkebaya” yang bertujuan membiasakan perempuan Indonesia bangga mengenakan kebaya di ruang publik, kantor, hingga pasar swalayan.

โ€‹๐„๐ซ๐š ๐ƒ๐ข๐ ๐ข๐ญ๐š๐ฅ ๐๐š๐ง ๐–๐ž๐›๐ฌ๐ข๐ญ๐ž ๐ญ๐ซ๐š๐๐ข๐ฌ๐ข๐ค๐ž๐›๐š๐ฒ๐š.๐ข๐

โ€‹Memasuki fase pengusulan resmi ke UNESCO, gerakan ini mulai mengadopsi cara-cara modern yang sangat terorganisir. Salah satu pilar utamanya adalah peluncuran website tradisikebaya.id.

โ€‹Situs ini menjadi pusat data tunggal yang krusial. Melalui website ini, komunitas melakukan pendataan publik, di mana warga diminta mengunggah foto mereka mengenakan kebaya disertai pernyataan dukungan. Ribuan data yang terkumpul di sana menjadi bukti otentik bagi UNESCO bahwa kebaya bukanlah artefak mati di museum, melainkan “living culture” atau budaya yang nyata-nyata masih dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia lintas generasi.

โ€‹๐Š๐š๐ฆ๐ฉ๐š๐ง๐ฒ๐ž “๐Š๐ž๐›๐š๐ฒ๐š ๐†๐จ๐ž๐ฌ ๐ญ๐จ ๐”๐๐„๐’๐‚๐Ž” ๐๐š๐ง ๐๐ž๐ซ๐š๐ง ๐ƒ๐ข๐š๐ง ๐’๐š๐ฌ๐ญ๐ซ๐จ

โ€‹Momentum ini semakin membesar ketika kampanye “Kebaya Goes to UNESCO” digaungkan secara masif. Salah satu sosok yang menjadi katalisator utama adalah aktris Dian Sastrowardoyo.

โ€‹Dian tidak hanya sekadar menjadi ikon, ia terlibat aktif mendorong publik untuk menyuarakan dukungan. Lewat pengaruhnya, kebaya yang selama ini terkesan kaku berubah citranya menjadi busana yang sangat relevan bagi mahasiswi dan perempuan muda. Ia mengajak jutaan pengikutnya untuk berpartisipasi dalam pendataan di tradisikebaya.id, memperkuat posisi tawar Indonesia di mata internasional bahwa dukungan rakyat terhadap busana ini bersifat masif.

โ€‹๐€๐ค๐ฌ๐ข-๐€๐ค๐ฌ๐ข ๐Š๐ซ๐ž๐š๐ญ๐ข๐Ÿ: ๐ƒ๐š๐ซ๐ข ๐‹๐ž๐ง๐ ๐ ๐š๐ง๐  ๐๐š๐ฅ๐ข ๐ก๐ข๐ง๐ ๐ ๐š ๐Š๐ž๐›๐š๐ฒ๐š ๐๐ž๐ซ๐๐š๐ง๐ฌ๐š

โ€‹Di berbagai daerah, dukungan muncul dalam bentuk kegiatan yang sangat kreatif dan penuh warna.

– โ€‹Lenggang Bali Pertiwi: Mengumpulkan ribuan perempuan di Pulau Dewata untuk berjalan anggun di ruang publik, menunjukkan bahwa di Bali, kebaya adalah bagian tak terpisahkan dari ritual dan kehidupan sosial.

– โ€‹Kebaya Berdansa: Sebuah gerakan yang mendobrak stigma bahwa kebaya itu membatasi gerak. Lewat acara ini, para perempuan membuktikan bahwa dengan kebaya, mereka tetap bisa berdansa, beraktivitas lincah, dan mengekspresikan kegembiraan.

– โ€‹Gerakan di Mancanegara: Perempuan diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia ikut bergerak, melakukan aksi berjalan kaki berkebaya di pusat-pusat kota besar dunia untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa kebaya adalah identitas pemersatu bangsa Indonesia di mana pun mereka berada.

โ€‹๐๐จ๐ฅ๐ž๐ฆ๐ข๐ค ๐‰๐š๐ฅ๐ฎ๐ซ ๐๐ž๐ง๐๐š๐Ÿ๐ญ๐š๐ซ๐š๐ง: ๐๐š๐ฌ๐ข๐จ๐ง๐š๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฆ๐ž ๐ฏ๐ฌ ๐’๐ญ๐ซ๐š๐ญ๐ž๐ ๐ข ๐ƒ๐ข๐ฉ๐ฅ๐จ๐ฆ๐š๐ฌ๐ข

โ€‹Namun, perjalanan menuju UNESCO tidak selamanya mulus. Pada tahun 2023, muncul dinamika besar ketika pemerintah mengambil keputusan untuk melakukan Joint Nomination (pengusulan bersama) dengan Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand.

โ€‹Keputusan ini sempat memicu perdebatan hangat di kalangan komunitas pejuang kebaya:

– โ€‹Pendukung Usulan Tunggal: Khawatir bahwa kekhasan dan sejarah panjang kebaya di Nusantara akan “menguap” jika digabung dengan negara lain. Ada keinginan kuat agar dunia tahu bahwa Indonesia adalah pusat utama dari peradaban kebaya.

– โ€‹Pendukung Usulan Bersama: Melihat dari kacamata diplomasi UNESCO yang lebih mengutamakan kolaborasi antarnegara. Jalur ini juga dianggap lebih cerdas secara strategis karena mempercepat proses antrean pengakuan yang sangat ketat di UNESCO.

โ€‹Setelah melalui berbagai dialog panjang, komunitas dan pemerintah akhirnya bersepakat. Fokus utama dialihkan pada pengakuan global dan pelestarian jangka panjang, dengan tetap menonjolkan kekayaan variasi kebaya milik Indonesiaโ€”seperti Kutubaru dan Jangganโ€”sebagai bagian dari keragaman budaya dunia.

โ€‹๐Š๐ž๐ฆ๐ž๐ง๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐‘๐š๐ค๐ฒ๐š๐ญ

โ€‹Ketika pada akhirnya UNESCO menetapkan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 4 Desember 2024 , itu adalah kemenangan kolektif. Ini adalah penghormatan bagi para perintis di tahun 2017, para admin dan kontributor tradisikebaya.id, Dian Sastro yang memberikan suaranya, serta setiap perempuan yang dengan bangga melangkahkan kaki dengan kebaya di acara-acara sporadis di seluruh pelosok negeri.

โ€‹Sejarah mencatat bahwa kebaya tidak hanya dijaga oleh hukum, tetapi dijaga oleh cinta dan kebanggaan pemiliknya.

Popular

  • Sambut Hari Kartini, Puluhan Buruh Gendong Fashion Show Berkebaya di Pasar Beringharjo
  • KSP apresiasi antusiasme komunitas dukung Kebaya Goes to UNESCO
  • Dian Sastrowardoyo Gaungkan Kampanye Kebaya Goes To UNESCO
  • Tinuk Suhartini MG adalah Semangat Berkebaya dan Pelestari Budaya

© Kebaya Goes to UNESCO 2022