๐ฃ๐ฒ๐๐ผ๐ป๐ฎ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฑ๐ถ ๐๐ผ๐๐ฎ “๐๐ผ๐ฏ๐ผ๐ถ” ๐๐ฎ๐น๐น๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐: ๐ฆ๐ฎ๐ฎ๐ ๐ง๐ฟ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐๐ถ ๐ก๐๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐ฆ๐ฒ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐๐๐๐ฟ๐ฎ๐น๐ถ๐ฎ
Oleh : Amelya Nugroho S.Ikom, M.Ikom
โSaat singgah di Melbourne, mengenakan kebaya sudah menjadi bagian dari keseharian yang menyenangkan. Di kota yang sangat multikultural seperti Melbourne, melihat seseorang memakai kebaya bukan lagi hal yang asing. Penduduk lokal di sana sepertinya sudah hafalโbegitu melihat siluet kebaya yang anggun, mereka langsung tahu: “Itu pasti orang Indonesia.” Ada rasa bangga tersendiri saat identitas kita dikenali dengan begitu positif.
โNamun, cerita yang paling berkesan justru terjadi saat pada suatu hari melakukan perjalanan ‘day trip’ dari Melbourne menuju Ballarat, sebuah kota bersejarah yang terletak sekitar 110 kilometer di sebelah barat laut Melbourne.
โ๐๐๐ง๐ฎ๐ฃ๐ฎ ๐๐๐ฅ๐ฅ๐๐ซ๐๐ญ: ๐๐๐ซ๐ฃ๐๐ฅ๐๐ง๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐ญ๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐ค๐๐ฌ๐๐ง
Menempuh perjalanan ke Ballarat dari pusat kota Melbourne sebenarnya sangat mudah dan menyenangkan. Waktu itu, saya memilih menggunakan transportasi publik. Saya naik kereta api lokal (V/Line) dari Stasiun Southern Cross di Melbourne. Perjalanannya memakan waktu sekitar 1,5 jam, melewati pemandangan padang rumput dan perbukitan Victoria yang indah.
โSesampainya di Stasiun Ballarat, petualangan berlanjut dengan naik bus lokal yang terintegrasi untuk menuju lokasi museum terbuka Sovereign Hill. Perjalanan singkat dengan bus ini langsung membawa saya seolah menembus lorong waktu.
โ๐๐๐๐๐ฒ๐ ๐๐ซ๐๐ง๐ฒ๐ ๐๐ข ๐๐๐ง๐ ๐๐ก “๐๐จ๐ญ๐ ๐๐ฎ๐” ๐๐๐๐-๐๐ง
Sovereign Hill adalah museum terbuka yang menghidupkan kembali suasana kota tambang emas zaman dulu (era Gold Rush). Bayangkan saja, saya berjalan di atas tanah berdebu, di antara bangunan kayu bergaya Victoria, kereta kuda yang berlalu-lalang, dan orang-orang yang berlalu-lalang dengan kostum ala abad ke-19.
โDi tengah suasana yang sangat “Barat” dan klasik itu, saya hadir mengenakan Kebaya berwarna oranye cerah. Warna ini sengaja dipilih agar memberikan energi yang kontras dengan latar belakang kota tambang yang cenderung berwarna cokelat dan putih kusam.
โ๐๐๐ฆ๐ฉ๐ข๐ฅ ๐๐๐๐ ๐๐๐ข๐ฌ ๐๐ข ๐๐๐ฉ๐๐ง ๐๐๐ง๐๐ฎ๐๐ฎ๐ค ๐๐จ๐ค๐๐ฅ
Berbeda dengan Melbourne yang sudah biasa melihat kebaya, di Ballarat kehadiran saya sempat memicu rasa surprise bagi pengunjung dan staf museum di sana. Mereka melihat sebuah busana yang sangat berbeda, asing bagi sejarah lokal mereka, namun terlihat sangat rapi dan berkarakter.
โKuncinya? Tampil Pede Abis! Meskipun saya merasa menjadi pusat perhatian, saya tetap melangkah dengan mantap. Saya sadar bahwa saat itu saya bukan sekadar turis, tapi sedang membawa wajah Indonesia. Respon mereka luar biasa; ada rasa respek yang terpancar dari tatapan dan senyum mereka. Ternyata, ketika kita menghargai dan bangga dengan busana yang kita pakai, orang lain pun akan memberikan penghormatan yang sama.
โ๐๐๐๐๐ฒ๐: ๐๐๐๐ง๐ญ๐ข๐ญ๐๐ฌ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ฎ๐ฐ๐๐ฌ ๐๐ข ๐๐๐ง๐ ๐๐๐ฃ๐
Perjalanan ke Ballarat ini kembali membuktikan bahwa kebaya itu sangat fleksibel. Ia tidak hanya cocok untuk acara formal di dalam gedung, tapi juga terlihat “nyeni” dan berani saat diajak menyusuri jalanan kota tua di Australia.
โPesan saya untuk teman-teman dan para emak-emak hebat: jangan pernah ragu untuk berkebaya di mana pun kita berada. Kebaya adalah “paspor visual” kita. Ia adalah cara paling elegan untuk memperkenalkan Indonesia tanpa perlu banyak bicara. Selama kita percaya diri, kebaya akan selalu menemukan cara untuk membuat kita bersinar, bahkan di sebuah kota koboi di ujung Australia sekalipun!