Batik Madura: Goresan Identitas, Keberanian, dan Warisan Leluhur
Oleh: Amelya Nugroho S.Ikom, M.Ikom
Tumbuh besar di tanah Madura hingga lulus SMA, batik tulis bukan sekadar pakaian; ia adalah bagian dari jiwa. Dalam keseharian, terutama di acara-acara resmi, mengenakan batik tulis Madura selalu memberikan kebanggaan tersendiri. Kedekatan ini bukanlah tanpa alasan, sebab saya lahir dari keluarga pembatik di Pamekasan, Madura.
Keluarga besar telah lama menekuni bisnis ini secara turun-temurun. Semangat itu pula yang membawa saya mendirikan label pribadi bernama “Amelya Batik” pada awal tahun 2015, yang sempat mendapat apresiasi luas saat dipasarkan di Pasaraya Blok M.
Filosofi di Balik Warna dan Motif
Bagi masyarakat Madura, setiap goresan canting adalah narasi kehidupan. Batik Madura mencerminkan keberanian, religiusitas, dan harapan melalui warna-warna yang berani dan motif yang kaya. Pengaruh laut dan nilai-nilai Islam menyatu dalam harmoni kain yang indah.
Berikut adalah makna mendalam di balik elemen-elemen khas Batik Madura:
1. Filosofi Warna: Cermin Karakter Masyarakat
– Merah: Melambangkan keberanian, kekuatan, dan karakter masyarakat Madura yang tegas dan keras.
– Kuning: Simbol kemakmuran, layaknya bulir padi yang menghidupi.
– Hijau: Mencerminkan religiusitas (pengaruh Islam yang kuat) serta kesuburan alam.
– Biru/Indigo: Menggambarkan lautan yang mengelilingi pulau, simbol identitas masyarakat kepulauan.
– Putih/Krem: Mewakili garam, komoditas utama yang menjadi napas ekonomi Madura.
2. Filosofi Motif: Simbol Harapan dan Keteguhan
– Flora (Bunga & Daun): Melambangkan keindahan, kesucian, dan keseimbangan alam yang terus berkembang.
– Fauna (Burung & Kupu-kupu): Simbol kebebasan, harapan, dan cinta abadi (seperti motif Ghapper).
– Aktivitas & Kehidupan: Motif Tong Centong (sendok nasi) mengandung doa untuk jaminan rezeki yang tak putus, sementara motif biota laut menghargai profesi nelayan.
– Serat Kayu (Sera Kayu): Menggambarkan keteguhan hati, kesabaran, dan pertumbuhan spiritual.
– Akulturasi Budaya: Kehadiran motif Carcena (Tionghoa) dan Buketan (Eropa/Belanda) menunjukkan keterbukaan masyarakat Madura terhadap pengaruh dunia luar.
Ketekunan dalam Teknik “Gentongan”
Salah satu keunikan yang paling saya kagumi adalah teknik Gentongan. Proses perendaman lama di dalam gentong tanah liat dengan pewarna alami menghasilkan warna yang justru semakin indah dan matang seiring waktu—sebuah simbol sempurna dari keuletan hidup.
Membawa Warisan ke Panggung Dunia
Kecintaan saya pada Batik Madura tidak berhenti di tanah air. Tahun lalu, saya berkesempatan membawa warisan leluhur ini melintasi benua hingga ke Luksemburg. Berdiri di antara arsitektur klasik Eropa dengan mengenakan corak Madura yang mencolok memberikan rasa bangga yang tak terlukiskan.
Saat itu, saya menyadari bahwa Batik Madura memiliki bahasa universal. Warna kuningnya yang hangat dan merahnya yang berani tampak begitu harmonis bersanding dengan lanskap global. Ini membuktikan bahwa batik bukan sekadar kain tradisional, melainkan narasi visual tentang identitas kuat yang mampu melintasi ruang dan waktu.
Bagi saya, Batik Madura adalah hubungan erat antara akar budaya di Pamekasan dengan langkah kaki saya di mana pun berada. Ia adalah nilai luhur yang akan terus saya jaga dan perkenalkan kepada dunia.