๐ฃ๐ฒ๐๐ผ๐ป๐ฎ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฑ๐ถ ๐ง๐ฎ๐ป๐ฎ๐ต ๐๐ณ๐ฟ๐ถ๐ธ๐ฎ: ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ E๐พ๐๐ฎ๐๐ผ๐ฟ ๐ต๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด ๐ก๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ฎ
Oleh : Amelya Nugroho S.Ikom, M.IKom
โTahun baru 2025 menjadi momen yang tidak akan saya lupakan. Saya dan suami waktu itu memutuskan untuk menjelajahi Kenya, sebuah negeri yang eksotis dengan lanskap alam yang liar namun menawan. Dalam koper perjalanan saya, selain pakaian lapangan, terselip dua potong kebaya kesayangan: Kebaya Kartini dan Kebaya Janggan, keduanya berbahan beludru.
๐๐๐ซ๐๐ข๐ซ๐ข ๐๐ข ๐๐ข๐ญ๐ข๐ค ๐๐จ๐ฅ ๐๐๐ซ๐๐ฃ๐๐ญ: ๐๐ช๐ฎ๐๐ญ๐จ๐ซ ๐๐จ๐ ๐จ๐ญ๐ข๐จ
Destinasi pertama yang saya abadikan dengan kebaya adalah penanda Garis Equator di Mogotio. Berdiri tepat di garis tengah bumi ini rasanya magis. Saya memilih Kebaya Kartini Beludru Hitam yang klasik.
โKenapa beludru? Meskipun matahari khatulistiwa bersinar terik, angin di dataran tinggi Kenya seringkali terasa sejuk. Bahan beludru memberikan perlindungan sekaligus kesan mewah yang sangat kontras dengan latar belakang papan kuning khas Equator. Dengan paduan celana panjang hitam dan topi, saya ingin menunjukkan bahwa identitas Indonesia bisa berdiri tegak dan elegan di titik mana pun di bumi ini.
โ๐๐๐ญ๐๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ก๐๐ง ๐๐ข ๐๐๐ฅ๐ฅโ๐ฌ ๐๐๐ญ๐ ๐๐๐ญ๐ข๐จ๐ง๐๐ฅ ๐๐๐ซ๐ค
Petualangan berlanjut ke Hellโs Gate National Park, tepatnya di Elsa Gate. Nama tempat ini mungkin terdengar seram, tapi pemandangannya luar biasa indah dengan tebing-tebing tinggi yang dramatis. Di sini, saya mengganti gaya dengan Kebaya Janggan Beludru Biru.
โKebaya Janggan dengan kerah tingginya yang khas memberikan aura “pejuang”. Potongannya yang tegas sangat serasi dengan semangat petualangan di taman nasional ini. Dipadukan dengan celana putih, gaya saya jadi terlihat ๐ ๐๐๐๐๐-๐โ๐๐ namun tetap kental dengan akar Nusantara. Di tengah hiruk pikuk wisatawan dan petugas taman nasional, kebaya saya justru menjadi magnet perhatian yang positif.
โ๐๐๐๐๐ฒ๐ ๐ข๐ญ๐ฎ ๐๐ฎ๐ฐ๐๐ฌ ๐๐๐ง ๐๐๐ง๐๐ฆ๐๐ฎ๐ฌ ๐๐๐ญ๐๐ฌ
Mungkin ada yang bertanya, “๐ด๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ก?” Jujur saja, selama kunjungan ke Equator, Hell’s Gate, hingga Danau Nakuru dan Danau Naivasha, saya merasa sangat nyaman. Kuncinya ada pada padu padan. Dengan bawahan celana panjang dan sepatu yang tepat, kebaya tidak menghalangi gerak saya sama sekali.
โMemang, saat kami lanjut ke Maasai Mara dengan medan padang sabana yang sangat keras dan berdebu, saya memilih memakai kaos biasa demi keamanan teknis. Namun, momen-momen berkebaya di tempat-tempat ikonik Kenya lainnya memberikan kepuasan batin tersendiri.
โUntuk teman-teman dan para emak-emak hebat, jangan pernah ragu membawa identitas kita saat melangkah ke luar negeri. Kebaya itu luwes. Ia bisa diajak masuk ke kafe paling mewah di Eropa, tapi juga tidak canggung diajak menapakkan kaki di tanah Afrika yang menantang.
โLewat sepotong kebaya, kita tidak hanya membawa kain, tapi membawa martabat dan cerita tentang Indonesia ke seluruh dunia.