Anatomi Tropis: Menggugat Hilangnya Logika Iklim dalam Berbusana
Busana adalah dialog antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Namun, dalam hiruk-pikuk modernitas, sering kali dialog dengan “alam” menjadi yang paling pertama diabaikan. Kita mulai kehilangan koneksi dengan kenyataan bahwa kita hidup di bumi pertiwi yang beriklim tropis—sebuah wilayah yang menuntut logika busana yang berbeda dengan wilayah gurun maupun daratan Eropa.
Identitas yang Menapak Bumi
Secara garis keturunan, darah Hadramaut mengalir di tubuh saya dan tumbuh dalam tradisi yang menghormati akar padang pasir, di mana busana tertutup rapat adalah jawaban logis bagi badai pasir dan panas kering yang ekstrem. Namun, takdir menempatkan saya untuk bernapas dan mencintai bumi Nusantara yang lembap dan tropis.
Di sinilah akal sehat saya bekerja: Menghormati akar keturunan bukan berarti harus memindahkan “iklim” dari sana ke sini. Sebagai Muslimah berdarah Arab yang bangga menjadi bagian dari bangsa ini, saya menyadari bahwa kesantunan yang paling tulus adalah yang selaras dengan alam tempat kita berpijak. Menggunakan kebaya adalah cara saya memuliakan “nenek moyang kebudayaan” di tanah air ini, tanpa sedikit pun kehilangan jati diri spiritual.
Kearifan “Pori-Pori” Nusantara
Nenek moyang Nusantara, melalui ribuan tahun adaptasi, telah menemukan teknologi busana yang paling cerdas untuk suhu panas dengan kelembapan tinggi: Kebaya dan Wastra. Potongan kebaya yang menggunakan bahan tipis—seperti katun atau brokat berpori—memfasilitasi sirkulasi udara agar kulit bisa “bernapas”. Ini adalah logika iklim—bahwa busana seharusnya melindungi raga tanpa harus menyiksanya dalam panas yang membekap.
Antara Logika Iklim dan Kedaulatan Pribadi
Tentu saja, busana bukan sekadar urusan biologis atau geografis. Ia adalah manifestasi dari selera, motif pribadi, dan cara seseorang membentuk identitasnya sendiri. Pada akhirnya, setiap individu memiliki kedaulatan penuh atas apa yang mereka kenakan.
Mungkin bagi saya, menggunakan kain berlapis di bawah terik matahari terasa kurang logis secara fungsional. Namun, bagi pengguna lain, pilihan tersebut bisa jadi sangat logis berdasarkan keyakinan, kenyamanan psikologis, atau selera estetika yang mereka yakini.
Melalui tulisan ini, saya tidak hadir untuk menilai, apalagi menghakimi pilihan busana siapa pun. Prinsip saya sederhana: busana adalah ruang merdeka. Tulisan ini hanyalah sebuah ajakan untuk kembali menengok bahwa selain selera pribadi, kita juga memiliki “tuan rumah” bernama alam tropis yang telah menyediakan inspirasi busana yang begitu jenius.
Kesimpulan: Menemukan Kembali Harmoni
Islam adalah agama yang luwes (rahmatan lil alamin). Para penyebar agama di Nusantara terdahulu memahami hal ini dengan melakukan akulturasi, bukan eliminasi budaya. Lahirnya model kebaya yang santun namun tetap bersahabat dengan sinar matahari khatulistiwa adalah bukti nyata titik temu antara Moralitas, Fungsionalitas, dan Selera. Mari kita terus merayakan kebaya dengan cara kita masing-masing. Karena keanggunan yang paling sejati adalah saat kita merasa nyaman dengan diri sendiri, selaras dengan keyakinan, dan tetap membumi pada alam pertiwi.