Lebih dari Sekadar Wujud: Identitas dalam Balutan Kebaya
Menjelajahi dunia bukan berarti meninggalkan jati diri di rumah. Sebaliknya, setiap langkah kaki kita di tanah asing adalah kesempatan untuk menunjukkan martabat bangsa. Saat roda kendaraan 4-wheel drive (4WD) kami membelah jalur terjal menuju perbukitan Eburu dan menyisiri tepian Danau Naivasha di Kenya, saya menyadari bahwa busana adalah cara paling sunyi sekaligus paling lantang untuk berkata: “Saya Indonesia.”
Logika Iklim dan Ketepatan Memilih
Afrika sering kali disalahpahami sebagai wilayah yang hanya mengenal panas terik. Namun, di dataran tinggi seperti Naivasha dan Nakuru pada bulan Januari, udara sejuk justru menyapa dengan tajam. Di sinilah kecerdasan berbusana diuji.
Saya memilih Kebaya Janggan berbahan beludru. Secara fungsional, beludru memberikan kehangatan yang pas untuk suhu perbukitan Kenya yang dingin. Namun lebih dari itu, ada alasan yang jauh lebih fundamental di balik pilihan ini: Prioritas Identitas.
Busana sebagai Pernyataan Bangsa
Bagi saya, berbusana yang mencerminkan identitas Indonesia adalah sebuah prioritas yang tak bisa ditawar. Saat kita berdiri di panggung internasional maupun di tengah sabana Afrika, kita tidak hadir sebagai wujud fisik semata. Kita hadir membawa sejarah, budaya, dan harga diri sebuah bangsa.
Memilih Janggan—sebuah aliran kebaya yang penuh wibawa—di tengah medan safari yang berat adalah sebuah pernyataan. Ini adalah tentang bagaimana kita tetap “menjadi Indonesia” meski berada di lingkungan yang sangat asing. Kita tidak perlu melebur dan kehilangan jati diri hanya untuk menyesuaikan diri dengan sekitar; kita bisa tetap bersinar dengan cara kita sendiri.
Kedaulatan Rasa dan Akal Sehat
Tentu, setiap orang memiliki kedaulatan penuh atas selera dan motif pribadinya dalam berpakaian. Di tradisikebaya.id, saya tidak ingin menghakimi pilihan siapa pun. Namun, saya ingin berbagi perspektif bahwa ada kepuasan batin yang luar biasa saat kita mampu menyelaraskan akal sehat (logika iklim) dengan kebanggaan identitas (logika budaya).
Jika di Jakarta yang lembap kita memilih brokat tipis yang “bernapas”, maka di Naivasha yang sejuk kita mengenakan beludru yang megah. Keduanya memiliki satu benang merah yang sama: Kebaya. Ini adalah bukti bahwa identitas kita sangat adaptif tanpa harus kehilangan esensinya.
Kesimpulan: Menjadi Duta Lewat Wastra
Pada akhirnya, perjalanan ke berbagai belahan dunia mengajarkan saya bahwa orang lain akan menghargai kita jika kita menghargai identitas kita sendiri. Dari panggung Paris hingga pedalaman Afrika, kebaya bukan sekadar baju, melainkan identitas yang saya pilih untuk dikenalkan kepada dunia.
Mari kita terus mengenakan identitas bangsa kita dengan bangga. Karena saat kita tampil dengan busana yang mencerminkan siapa kita sebenarnya, kita sedang menenun masa depan warisan Nusantara di mana pun kita berada.