Kebaya Goes to UNESCO Kebaya Goes to UNESCO
  • Tentang Kami
    • Tentang Tradisikebaya.id
    • Redaksi
  • Sosok Berkebaya
  • Serba-Serbi
    • Serba-Serbi Kebaya
    • Busana Tradisional
  • Berita
    • Artikel
    • Sorotan Media
    • Video
  • Galeri
    • Kebaya Berdansa
    • Galeri Kegiatan
    • Lenggang Bali Pertiwi
  • Referensi
  • Dukungan
  • 5 February 2026

Kebangkitan Kebaya Janggan: “Zirah” Ketangguhan dari Sinema ke Realita

Industri kreatif sering kali menjadi jalan pulang bagi warisan budaya yang sempat terpinggirkan. Melalui serial Netflix “Gadis Kretek”, kita menyaksikan bagaimana sepotong busana klasik bernama Kebaya Janggan kembali bertahta di hati perempuan lintas generasi, melampaui sekadar tren musiman.

​Sekilas “Gadis Kretek”: Kisah Ambisi dan Aroma

Sumber: wikipedia

​Sebagai latar belakang, serial 5 episode ini mengisahkan perjalanan Dasiyah (Jeng Yah), seorang perempuan ambisius dan berbakat yang berjuang di tengah dominasi laki-laki dalam industri kretek di tahun 1960-an. Film ini bukan sekadar romansa, melainkan pencarian jati diri, rahasia keluarga, dan keberanian seorang perempuan dalam mendobrak tradisi industri pada zamannya.

Dian Sastrowardoyo, yang memerankan Jeng Yah, tampil sangat ikonik dengan busana yang menjadi ciri khasnya di setiap episode.

​Mengenal Janggan: Pusaka Klasik yang Terlupakan

​Banyak yang baru menyadari eksistensi model ini saat melihat Jeng Yah. Padahal, Kebaya Janggan adalah salah satu aliran kebaya paling tua dan berwibawa dalam sejarah busana Jawa:

– ​Asal Usul Nama: Diambil dari kata “Jangga” yang berarti leher, merujuk pada kerah tinggi menutup leher yang menjadi ciri utamanya.

– ​Busana Keraton: Dahulu, Janggan adalah busana resmi bagi abdi dalem perempuan atau bangsawan Jawa saat menjalankan tugas formal di dalam keraton.

– ​Filosofi Ketegasan: Potongannya yang menyerupai jas laki-laki dengan kancing samping melambangkan ketegasan, martabat, dan kesantunan yang sangat tinggi.

​Meluruskan Pemahaman Publik

​Cukup disayangkan bahwa sebelum film ini meledak, beberapa komunitas pecinta kebaya kurang memahami posisi Janggan dalam khazanah wastra. Sering dianggap kaku atau sekadar “seragam dinas” keraton, Janggan jarang muncul dalam diskusi fashion lokal.

​Dampaknya kini luar biasa. Tren penggunaan Janggan yang dipadupadankan dengan batik klasik Jawa tidak hanya menghidupkan kembali sisi historisnya, tetapi juga membuktikan bahwa Janggan adalah aliran kebaya yang “bertenaga”—ia adalah simbol perempuan yang mandiri dan berprinsip.

​Kesimpulan

​Kepopuleran Kebaya Janggan saat ini adalah bukti bahwa sinema berkualitas mampu mengedukasi masyarakat tentang kekayaan budaya yang selama ini tersembunyi. Janggan bukan sekadar baju; ia adalah identitas ketangguhan perempuan Indonesia yang telah ada jauh sebelum tren hari ini dimulai.

Popular

  • Dukung Kebaya Goes to UNESCO, PANDI Luncurkan Situs tradisikebaya.id
  • Kebaya Janggan
  • Tien Soeharto
  • Iriana Ajak Perempuan Indonesia Kenakan Kebaya dalam Kegiatan Sehari-hari

© Kebaya Goes to UNESCO 2022